Ekspor Jepang Tertekan Tarif AS dan Risiko Resesi Meningkat
Ekspor Jepang kembali mengalami kontraksi pada Juni 2025, mencatat penurunan 0,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini menandai penurunan dua bulan berturut-turut, setelah pada Mei melemah 1,7 persen. Hasil ini mengejutkan pasar karena berlawanan dengan prediksi ekonom Reuters yang memperkirakan kenaikan 0,5 persen.
Penurunan ekspor ini terjadi di tengah ketegangan perdagangan antara Jepang dan Amerika Serikat. Mulai 1 Agustus, AS resmi memberlakukan tarif balasan sebesar 25 persen terhadap berbagai produk impor Jepang. Langkah ini disampaikan langsung oleh Presiden Donald Trump yang menyatakan pesimistis akan tercapainya kesepakatan dagang dalam waktu dekat.
Menurut Bank Dunia, ekspor menyumbang hampir 22 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang pada 2023. Ekspor mobil, yang menjadi tulang punggung perdagangan Jepang, terkena dampak paling besar. Mobil menyumbang 28,3 persen dari total ekspor Jepang pada 2024. Namun, ekspor kendaraan ke AS anjlok 26,7 persen pada Juni, melanjutkan penurunan 24,7 persen di bulan sebelumnya.
Analis Capital Economics, Marcel Thieliant, menyatakan bahwa produsen Jepang memilih strategi pemotongan harga guna mempertahankan pangsa pasar. Meski volume ekspor mobil naik 4,6 persen, nilai ekspornya merosot 25,3 persen. Hal ini mencerminkan beban tarif diserap dalam margin keuntungan perusahaan, bukan dibebankan kepada konsumen.
Situasi ini menempatkan ekonomi Jepang di ambang resesi. Ekonomi telah berkontraksi pada kuartal pertama 2025 akibat lemahnya ekspor. Jika kontraksi kembali terjadi pada kuartal kedua, Jepang secara teknis akan memasuki resesi, yaitu dua kuartal berturut-turut mengalami pertumbuhan negatif.
Ke depan, Jepang dihadapkan pada tantangan besar: menjaga stabilitas ekonominya di tengah tekanan tarif global dan mencari jalan keluar dari kebuntuan dagang dengan AS. Pemerintah Jepang perlu merumuskan strategi baru untuk memperluas pasar ekspor dan memperkuat ketahanan ekonomi domestik di tengah dinamika geopolitik yang berubah cepat.
“Baca juga: Mengubah Perubahan Iklim Menjadi Peluang Pertanian Cerdas“ [3]

