
Investor Muda Kuasai Aset Terbesar di Pasar Modal
Info inspiratif – Dominasi jumlah investor muda di Indonesia terus meningkat, namun kepemilikan aset masih terkonsentrasi pada kelompok usia senior. Data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Juni 2025 menegaskan bahwa investor berusia di atas 60 tahun tetap menjadi penguasa utama pasar modal.
Investor berusia ≥60 tahun tercatat menguasai Rp986,28 triliun atau 54,25 persen dari total nilai aset. Posisi kedua ditempati kelompok usia 51–60 tahun dengan kepemilikan Rp302,74 triliun atau 16,65 persen. Adapun kelompok usia produktif 31–40 tahun mencatat aset Rp282,09 triliun atau 12,81 persen, disusul kelompok 41–50 tahun dengan Rp219,03 triliun atau 12,25 persen. Sementara itu, meski investor berusia ≤30 tahun mendominasi jumlah, total aset yang mereka kuasai hanya Rp58,08 triliun atau 2,95 persen.
Dari sisi demografi, 50 persen investor berusia di bawah 30 tahun. Namun, dominasi aset jelas masih berada di tangan generasi senior yang cenderung memiliki pengalaman panjang serta kemampuan finansial lebih mapan.
Distribusi aset juga masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sekitar 70,5 persen investor berada di Jawa dengan nilai Rp5.411 triliun atau 93,9 persen dari total. DKI Jakarta mendominasi dengan penguasaan Rp4.734 triliun atau 82,15 persen. Sementara itu, kontribusi luar Jawa masih terbatas, di antaranya Sumatra 5,09 persen, Kalimantan 4,76 persen, Sulawesi 3,5 persen, serta Maluku dan Papua 1,23 persen.
Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara partisipasi investor muda dan nilai aset yang mereka miliki. Ke depan, literasi keuangan dan akses investasi yang lebih merata diyakini dapat mendorong peran generasi muda sekaligus pemerataan distribusi aset di luar Jawa.
“Baca juga: Membangun Karakter Pemuda Menuju Indonesia Emas 2045 Perspektif Kemenag dan Influencer”
Indeks Nikkei 225 di Jepang naik 0,47 persen, sementara indeks Topix menguat 0,5 persen. Sebaliknya, pasar Korea Selatan melemah, dengan indeks Kospi turun 1,01 persen dan Kosdaq terkoreksi 1,28 persen. Di Australia, indeks ASX 200 sempat menyentuh level tertinggi intraday di 8.949, meski akhirnya stagnan. Kontrak berjangka Hang Seng di Hong Kong juga menunjukkan pembukaan lebih kuat di 25.214 dibandingkan penutupan terakhir di 25.270,07.
Dari Singapura, kinerja ekspor domestik non-migas kembali melemah. Pada Juli, ekspor tercatat menyusut 4,65 persen dibanding tahun sebelumnya, lebih buruk dari proyeksi kontraksi 1,8 persen oleh ekonom dalam survei Reuters. Angka tersebut muncul setelah revisi pertumbuhan 12,9 persen pada Juni, menurut laporan Enterprise Singapore.
Sementara itu, saham berjangka Amerika Serikat menguat pada sesi Asia. Harapan investor akan pemangkasan suku bunga oleh The Fed memicu sentimen positif di Wall Street. Meski begitu, pada penutupan perdagangan Jumat lalu, indeks S&P 500 turun 0,29 persen ke 6.449,80 setelah menyentuh rekor. Indeks Nasdaq juga melemah 0,40 persen ke 21.622,98, sedangkan indeks Dow Jones naik tipis 0,08 persen ke 44.946,12 berkat lonjakan saham UnitedHealth sebesar 12 persen.
Kondisi ini menunjukkan pasar global masih menanti arah kebijakan moneter The Fed. Investor di kawasan Asia diperkirakan akan tetap berhati-hati, sembari mengantisipasi data ekonomi terbaru yang dapat memengaruhi pergerakan indeks regional dalam pekan ini.
“Baca juga: Kreativitas UMKM Solo dari Limbah Kertas, Produk Berkualitas, Kirim ke Mana Saja!“ [2]