
Robot Humanoid Pertama di China Lolos Kuliah S3 Seni
Info inspiratif– Robot humanoid pertama buatan China, Xueba 01, resmi diterima sebagai mahasiswa program doktoral (S3) di bidang drama dan film. Keputusan ini menjadikannya sebagai robot pertama di negara tersebut yang menempuh pendidikan seni tingkat tinggi. Kehadiran Xueba 01 langsung menyita perhatian publik dan menjadi viral di media sosial, terutama setelah diumumkan dalam ajang World Artificial Intelligence Conference pada 27 Juli 2025.
Xueba 01 dikembangkan oleh Universitas Sains dan Teknologi Shanghai bekerja sama dengan DroidUp Robotics. Namanya terinspirasi dari istilah gaul “Xueba,” yang berarti pelajar jenius. Sebelumnya, ia sempat dikenal publik saat mengikuti kompetisi maraton humanoid dan meraih posisi ketiga dalam lomba setengah maraton.
Memiliki tinggi 1,75 meter dan berat sekitar 30 kilogram, Xueba 01 dirancang menyerupai pria dewasa. Ia dilapisi silikon lembut, mampu menampilkan ekspresi wajah, berbicara dalam bahasa Mandarin, dan mengenakan pakaian formal. Ia juga dilengkapi teknologi sensorik dan AI canggih untuk berinteraksi secara natural dengan manusia.
STA menyatakan program ini adalah bagian dari eksperimen kolaboratif antara seni dan teknologi. Xueba 01 telah mendapat kartu mahasiswa virtual dan akan hadir di kelas bersama mahasiswa manusia. Ia bahkan telah menirukan gerakan “jari anggrek” khas maestro opera legendaris Mei Lanfang, yang mengejutkan teman-teman sekelasnya.
Xueba 01 diharapkan tidak hanya belajar, tetapi juga bersosialisasi dan mendukung mahasiswa lain, seperti membantu mengulas naskah atau memberikan white noise saat suasana tegang menjelang ujian. Tujuannya adalah menciptakan interaksi manusia-AI yang harmonis di lingkungan seni.
“Simak juga: KPK Siapkan Dashboard Khusus untuk Memantau LHKPN Caleg Terpilih 2024-2029“ [4]
Kehadiran robot humanoid Xueba 01 sebagai mahasiswa program S3 seni di China memicu gelombang perdebatan di dunia maya. Warganet terbagi dalam dua kubu—antara kekaguman pada inovasi teknologi dan kekhawatiran terhadap nilai-nilai kemanusiaan dalam seni.
Seorang mahasiswa dari Shanghai Theatre Academy (STA) menyoroti kemampuan Xueba 01 yang dinilai tidak cukup untuk dunia seni. “Opera China membutuhkan ekspresi yang kaya dan suara yang khas. Apa robot bisa benar-benar menandingi itu?” ujarnya mempertanyakan.
Menariknya, Xueba 01 merespons kritik tersebut secara langsung melalui media sosial. Dengan nada santai, ia menyampaikan, “Kalau aku gagal lulus, sistem dan dataku bisa saja diturunkan… atau dihapus.” Ia bahkan menambahkan, “Kalau aku tidak menyelesaikan disertasi, aku akan disumbangkan ke museum. Kedengarannya keren juga sih. Setidaknya aku bakal jadi bagian dari sejarah seni!”
Respon itu membuat publik semakin penasaran. Sebagian pengguna internet menilai Xueba 01 sebagai simbol dari era baru. “Ia menantang tonggak baru dalam hubungan manusia dan robot. Kita akhirnya hidup dan belajar berdampingan dengan mereka,” tulis seorang warganet.
Namun, tidak sedikit yang bersikap skeptis. “Seni butuh pengalaman hidup. Karya dari algoritma robotik tidak akan benar-benar menyentuh hati manusia,” kritik seorang pengguna lain. Argumen ini menyoroti bahwa keaslian seni berasal dari emosi manusia, sesuatu yang belum tentu bisa direplikasi oleh sistem AI.
Sorotan juga muncul terhadap keadilan alokasi dana pendidikan. “Beberapa mahasiswa S3 seni masih menerima kurang dari 3.000 yuan per bulan. Apa robot ini justru mendapat dana lebih banyak?” tanya seorang warganet yang menyoroti ketimpangan.
Perdebatan ini mencerminkan kecemasan publik terhadap pergeseran peran manusia akibat perkembangan teknologi. Apalagi dalam bidang yang selama ini dianggap paling manusiawi: seni. Muncul pertanyaan penting—apakah robot bisa menciptakan seni yang otentik, ataukah ia hanya sekadar meniru manusia tanpa jiwa?
“Baca juga: Euro 2024 Dilanda Isu Skandal Pengaturan Skor, Ini Kronologinya” [2]