
ASEAN Jadi Saksi Perdamaian Thailand dan Kamboja di KTT 2025
Info inspiratif – Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet resmi menandatangani perjanjian damai untuk mengakhiri konflik perbatasan. Kesepakatan itu dicapai saat KTT Ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur Convention Centre, Malaysia, Minggu.
Penandatanganan disaksikan oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim selaku Ketua ASEAN dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Keduanya berperan penting mempertemukan kedua negara untuk berdialog.
Trump mengatakan Amerika Serikat mendukung penuh perdamaian di Asia Tenggara. Ia juga mengaku sempat menghubungi kedua pemimpin untuk mendorong solusi damai. “Kami sepakat memilih jalan perdamaian, bukan konflik,” kata Trump.
Dalam kesepakatan tersebut, Thailand dan Kamboja sepakat menghentikan semua permusuhan serta membebaskan tawanan perang. Pengamat dari negara-negara ASEAN akan ditempatkan di perbatasan untuk memastikan perdamaian berjalan baik.
Trump menyebut keberhasilan ini bisa menjadi contoh bagi kawasan lain seperti Timur Tengah agar memilih diplomasi daripada perang.
“Baca juga : Brand Lokal Terapkan Fashion dengan Tanam Pewarna Alami”
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengapresiasi peran Presiden Trump dalam membantu proses perdamaian Thailand dan Kamboja. Ia mengatakan kerja sama ini menunjukkan ASEAN tetap menjadi wadah penting untuk menjaga stabilitas kawasan.
“Dunia butuh pemimpin yang berani memperjuangkan perdamaian,” kata Anwar. Ia juga menilai dukungan AS memperkuat posisi ASEAN dalam menghadapi berbagai konflik di Asia Tenggara.
Perdana Menteri Kamboja Hun Manet menyebut momen ini sebagai “hari bersejarah” bagi kedua negara. Sementara Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menilai perdamaian ini adalah bentuk penghormatan terhadap tetangga dan wilayah masing-masing.
Pertemuan di KTT ASEAN Kuala Lumpur pun menandai langkah baru bagi diplomasi kawasan, menunjukkan bahwa kerja sama dan dialog bisa membawa hasil nyata bagi perdamaian regional.
KTT ASEAN 2025 di Kuala Lumpur pun tercatat sebagai salah satu pertemuan paling bersejarah, karena berhasil membawa dua negara bertetangga menuju rekonsiliasi. Keberhasilan ini memperkuat posisi ASEAN sebagai organisasi regional yang tidak hanya fokus pada ekonomi, tetapi juga pada diplomasi perdamaian dan stabilitas kawasan.
Dengan tercapainya kesepakatan ini, para pengamat menilai bahwa langkah ASEAN bisa menjadi model penyelesaian konflik bagi wilayah lain, sekaligus memperkuat peran organisasi tersebut di kancah internasional.
“Baca juga : Selena Gomez Tampil Chic di Bachelorette Party Jelang Nikah”