
China Terapkan Tarif Balasan untuk Barang Impor AS di Pelabuhan
Info inspiratif – China secara resmi memberlakukan kebijakan tarif baru terhadap kapal-kapal asal Amerika Serikat (AS) yang berlabuh di pelabuhan-pelabuhan China. Kebijakan ini diumumkan sebagai langkah balasan atas keputusan AS yang lebih dulu mengenakan biaya terhadap kapal-kapal China sejak April 2025.
Kementerian Perhubungan China menyebutkan, keputusan AS tersebut dinilai melanggar prinsip perdagangan internasional dan Perjanjian Pengiriman Maritim antara kedua negara.
Mulai Selasa mendatang, kapal-kapal AS akan dikenai biaya sebesar 400 yuan atau sekitar Rp934.000 per ton bersih, lebih tinggi dibandingkan tarif 50 dolar AS atau sekitar Rp831.000 per ton bersih yang sebelumnya diterapkan AS terhadap kapal China. Kementerian juga menegaskan bahwa pungutan ini berlaku bagi seluruh kapal yang dimiliki, dioperasikan, atau sebagian besar sahamnya (minimal 25 persen) dimiliki oleh entitas asal AS.
Langkah ini menjadi bagian dari respons diplomatik China terhadap kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang dianggap proteksionis dan diskriminatif. Pemerintah China menyatakan bahwa tindakan AS tidak hanya menimbulkan ketegangan ekonomi, tetapi juga berpotensi mengganggu rantai pasok global dan stabilitas pelayaran internasional.
“Baca juga : Perubahan Diri Bisa Menjadi Tanda Awal Gangguan Mental”
Pemerintah AS melalui tinjauan perwakilan dagang yang dilakukan di bawah pemerintahan Joe Biden dan Donald Trump menilai bahwa tindakan dan kebijakan industri maritim China tidak rasional serta merugikan perdagangan internasional. Berdasarkan hasil tinjauan itu, AS menetapkan tarif tambahan bagi kapal yang dibangun di China dan memasuki pelabuhan-pelabuhan Amerika.
Sebagai tanggapan, Kementerian Perhubungan China menilai kebijakan AS tersebut sebagai pelanggaran terhadap prinsip perdagangan bebas dan kesepakatan bilateral.
Data dari Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) menunjukkan dominasi besar China dalam industri perkapalan dunia. Negara itu menguasai 53,3 persen pasar pembuatan kapal global, sementara Amerika Serikat hanya berkontribusi sekitar 0,1 persen. Perbedaan kapasitas produksi ini dinilai menjadi salah satu faktor yang mendorong ketegangan dagang antara kedua negara.
Logam tanah jarang memiliki peran penting dalam pembuatan perangkat elektronik, kendaraan listrik, dan peralatan militer canggih.
Langkah terbaru ini muncul menjelang rencana negosiasi perdagangan antara China dan AS, yang diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa minggu mendatang. Pengamat menilai bahwa peningkatan tekanan ekonomi dari kedua pihak menunjukkan belum adanya sinyal rekonsiliasi dalam waktu dekat.
“Baca juga : Stasiun Tertua Masih Aktif, Bukti Awal Kereta di RI”