
Gunung Semeru Erupsi, Letusan Capai 600 Meter
Info inspiratif –Gunung Semeru, yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi pada Minggu pagi, 6 Juli 2025. Letusan tercatat terjadi pada pukul 05.42 WIB dengan ketinggian kolom abu mencapai 600 meter di atas puncak, atau sekitar 4.276 meter di atas permukaan laut (mdpl). Fenomena ini menandai peningkatan aktivitas vulkanik di gunung tertinggi di Pulau Jawa.
Kolom abu terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang, mengarah ke barat daya. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, menyampaikan bahwa saat laporan disusun, aktivitas erupsi masih berlangsung. Sebelumnya, letusan juga terjadi pada pukul 01.11 WIB, meski saat itu visual letusan tidak dapat diamati secara langsung.
“Baca juga: Gareth Southgate Mundur, Pesan Emosional Para Pemain Inggris”
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di sekitar kawasan rawan bencana Gunung Semeru. Setelah erupsi yang terjadi pada Minggu pagi, 6 Juli 2025, petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, menegaskan bahwa masyarakat harus waspada terhadap potensi bahaya yang lebih luas dari sebelumnya.
Liswanto menyebutkan bahwa masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Area ini sangat rawan terhadap lontaran batu pijar dan guguran material vulkanik yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Hal ini penting mengingat aliran lahar dan awan panas berpotensi menjangkau hingga 13 kilometer dari puncak gunung.
“Simak juga: Pencetak Assist Terbanyak Euro 2024, Lamine Yamal Bintang Muda Spanyol”
Dalam konteks peningkatan aktivitas gunung api di Indonesia, PVMBG juga memantau Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur. Statusnya kini naik dari Waspada menjadi Siaga sejak 2 Juli 2025. Aktivitas erupsi semakin intens dengan kolom abu mencapai 1.200 meter dan lontaran material pijar ke berbagai arah hingga 1.500 meter. Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid, menjelaskan bahwa letusan disertai dentuman keras dan suara gemuruh, yang bahkan mengakibatkan kebakaran vegetasi di lereng utara dan timur laut.
Dengan dua gunung api aktif dalam status siaga dan waspada, masyarakat di sekitar kedua wilayah diminta tetap tenang namun siaga. Informasi resmi dari PVMBG menjadi sumber utama yang harus diikuti untuk menghindari kepanikan akibat hoaks. Pemerintah daerah, tim SAR, dan relawan terus bersiaga untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut dari aktivitas vulkanik ini.