
insiden tunanetra jatuh ke got di halte TJ
infoinspiratif.com – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, secara terbuka meminta maaf terkait viralnya insiden seorang wanita tunanetra yang jatuh ke got di salah satu halte Transjakarta. Peristiwa itu terjadi karena petugas menolak memberikan bantuan pendampingan kepada korban.
“Secara khusus untuk ini, saya minta maaf,” ujar Pramono saat ditemui di Jakarta Pusat, Selasa. Ia menegaskan akan menegur jajaran direksi dan manajemen Transjakarta agar kejadian serupa tidak terulang.
Pramono menekankan bahwa Jakarta harus menjadi kota yang ramah disabilitas. Ia menyebut telah berulang kali mengingatkan jajaran Transjakarta agar memberikan pelayanan yang inklusif bagi penyandang disabilitas. “Yang seperti ini tidak boleh terulang kembali. Saya akan memberikan teguran kepada jajaran direksi dan manajemen Transjakarta,” tegasnya.
Baca juga: “Kemendikdasmen soroti modus penipuan kerja sama IFP”
Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan dan Hubungan Masyarakat Transjakarta, Tjahyadi DPM, menyatakan menyesali kejadian tersebut. Ia mengonfirmasi sudah berkomunikasi langsung dengan korban dan menjanjikan pendampingan penuh.
“Transjakarta siap memberikan perhatian serta pendampingan kepada pelanggan yang bersangkutan. Saat ini kami melakukan evaluasi internal dan memperkuat standar pelayanan agar kejadian serupa tidak terjadi lagi,” kata Tjahyadi.
Insiden ini viral setelah diunggah akun Instagram @folkkonoha. Video memperlihatkan seorang wanita berkerudung, mengenakan helm, memegang tongkat, dan duduk di dekat lubang got. Baju dan tasnya terlihat kotor terkena air. Unggahan itu menyebut penyebab jatuhnya korban adalah ketidakmampuan petugas memberikan bantuan pendampingan.
Kasus ini menyoroti pentingnya pelayanan publik yang inklusif, terutama di transportasi massal. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan lebih dari 2,5 juta warga DKI Jakarta memiliki disabilitas. Kebutuhan pendampingan dan aksesibilitas di transportasi umum menjadi isu krusial bagi pemerintah kota.
Pakar transportasi dan inklusivitas, Dr. Ratna Sari, menekankan bahwa “petugas transportasi harus terlatih dalam membantu penyandang disabilitas untuk mencegah kecelakaan dan meningkatkan rasa aman.”
Selain itu, penggunaan fasilitas fisik, seperti jalur khusus tunanetra, pegangan tangan, dan tanda braille, perlu diperkuat. Hal ini menjadi perhatian pemerintah agar semua warga, termasuk penyandang disabilitas, dapat menggunakan transportasi publik dengan nyaman.
Viralnya insiden ini memicu reaksi publik luas. Netizen mengkritik kurangnya perhatian petugas Transjakarta dan menekankan perlunya pelatihan khusus bagi staf. Banyak pengguna media sosial meminta pemerintah memperketat standar keselamatan dan memastikan layanan ramah disabilitas menjadi prioritas utama.
Beberapa akun menyoroti pentingnya pemantauan CCTV dan prosedur pendampingan otomatis di halte untuk mencegah kejadian serupa. Saran ini menunjukkan bahwa masyarakat kini semakin peduli terhadap aspek keselamatan dan inklusivitas dalam transportasi publik.
Insiden tunanetra jatuh ke got di halte Transjakarta menjadi pengingat penting bagi pemerintah dan operator transportasi. Pramono Anung telah menyampaikan permintaan maaf, dan Transjakarta berkomitmen memperkuat standar pelayanan dan pendampingan.
Kejadian ini diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan aksesibilitas di seluruh halte dan moda transportasi di Jakarta. Pelatihan staf, evaluasi prosedur, dan fasilitas pendukung bagi penyandang disabilitas menjadi prioritas agar kota ini benar-benar ramah bagi semua warga.
Dengan tindakan cepat dan evaluasi menyeluruh, diharapkan transportasi publik di Jakarta tidak hanya aman secara fisik tetapi juga inklusif, sehingga penyandang disabilitas merasa nyaman dan terlindungi saat menggunakan layanan publik.
Baca juga: “Dermaga Halte Buaran Diseruduk Kendaraan Pribadi, TransJakarta Koridor 11 Terpaksa Alihkan Rute”