
CEO Nvidia Ungkap Pilihan Karier Jika Kembali Usia 20 Tahun
Info inspiratif– CEO Nvidia, Jensen Huang, mengungkapkan pilihan menarik jika dirinya kembali menjadi mahasiswa di usia 22 tahun pada era sekarang. Dalam kunjungannya ke Beijing pada Rabu lalu, ia mendapat pertanyaan dari seorang jurnalis tentang arah studi yang akan ia ambil bila memulai kembali kariernya dari awal, namun tetap membawa ambisi dan visi seperti saat ini.
“Untuk Jensen muda yang berusia 20 tahun dan baru lulus sekarang, dia mungkin akan memilih bidang ilmu fisika ketimbang ilmu perangkat lunak,” ujar Huang, dikutip dari CNBC, Sabtu (19/7/2025).
Sebagai informasi, Huang lulus dari Oregon State University di usia 20 tahun dengan gelar sarjana teknik elektro, lalu melanjutkan studi pascasarjana di Stanford University. Tak lama kemudian, ia bersama Chris Malachowsky dan Curtis Priem mendirikan Nvidia pada April 1993.
“Baca juga: SIM Indonesia Berlaku Internasional Mulai 2025?“ [2]
CEO Nvidia, Jensen Huang, menyampaikan pandangannya tentang masa depan kecerdasan buatan (AI) yang semakin bertransformasi. Dalam forum teknologi The Hill & Valley di Washington, D.C., April lalu, Huang menjelaskan bahwa AI akan memasuki fase baru yang disebutnya sebagai Physical AI. Pandangan tersebut memperkuat alasannya memilih ilmu fisika sebagai fokus jika ia kembali menjadi mahasiswa saat ini.
Dalam 15 tahun terakhir, AI mengalami tiga gelombang besar. Gelombang pertama, menurut Huang, adalah Perception AI. Teknologi ini berfokus pada kemampuan sistem komputer untuk mengenali data dari lingkungan, seperti gambar dan suara. Terobosannya dimulai dengan hadirnya AlexNet pada 2012—model deep learning yang memungkinkan komputer mengidentifikasi gambar secara akurat. AlexNet menjadi pemicu perkembangan AI modern dan mengawali era computer vision yang kita kenal saat ini.
Gelombang kedua dikenal sebagai Generative AI. Teknologi ini mengubah cara AI memproses informasi. Model AI kini tidak hanya memahami data, tetapi juga mampu menciptakan konten baru. Contohnya mencakup teks multibahasa, gambar realistis, bahkan kode pemrograman. Dalam praktiknya, generative AI telah merevolusi berbagai industri—dari hiburan, pemasaran, pendidikan, hingga pengembangan perangkat lunak.
Optimisme Huang mencerminkan posisi Nvidia sebagai pionir AI global. Ia memperkirakan gelombang Physical AI akan memicu inovasi besar berikutnya, terutama pada sektor industri, manufaktur, dan robotika. Ini sejalan dengan rencana jangka panjang Nvidia yang membangun masa depan berbasis otomasi dan tenaga kerja digital cerdas.
“Simak juga: Kritik Terbuka Alex Marwata, Penurunan Kepercayaan Pada KPK“ [4]