
BI
infoinspiratif.com – Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta menilai ekonomi kreatif memiliki potensi besar sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Penilaian ini didasarkan pada tren pertumbuhan yang terus meningkat. Namun, kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDRB Jakarta masih tergolong rendah.
Kepala Kantor Perwakilan BI DKI Jakarta, Iwan Setiawan, menyampaikan pandangan tersebut di Jakarta, Selasa. Ia menegaskan perlunya dorongan kebijakan yang lebih kuat. Tujuannya agar ekonomi kreatif mampu berperan lebih signifikan dalam perekonomian daerah.
Pertumbuhan ekonomi Jakarta membutuhkan sumber baru yang berkelanjutan. Transformasi ekonomi menjadi agenda penting pascapandemi. Dalam konteks ini, ekonomi kreatif dinilai relevan dan adaptif.
Baca juga: “Kuota 11 Ribu Orang Tersisa di Jakarta Marathon 2026”
BI mencatat ekonomi kreatif Jakarta tumbuh 8,13 persen pada 2024. Angka ini meningkat menjadi 9,42 persen pada 2025. Tren tersebut menunjukkan kinerja yang konsisten dan menjanjikan.
Meski tumbuh tinggi, pangsa ekonomi kreatif masih relatif kecil. Kontribusinya terhadap PDRB DKI Jakarta tercatat 11,53 persen. Angka ini dinilai belum mencerminkan potensi sebenarnya.
“Share-nya masih rendah, padahal peluang pengembangannya sangat besar,” kata Iwan. Ia menilai ruang peningkatan masih terbuka lebar. Dorongan kebijakan dan ekosistem menjadi kunci.
Ekonomi kreatif mencakup berbagai subsektor. Di antaranya perfilman, kuliner, fesyen, musik, dan konten digital. Jakarta memiliki keunggulan sebagai pusat talenta dan pasar.
BI menyoroti subsektor perfilman sebagai salah satu penggerak utama. Perfilman dinilai memiliki efek pengganda yang kuat. Dampaknya dirasakan oleh banyak sektor lain.
Sektor pendukung meliputi kuliner, transportasi, dan perhotelan. Industri fesyen dan rumah produksi juga ikut terdorong. Aktivitas ekonomi menjadi lebih terintegrasi.
“Kami yakin ekonomi kreatif akan mendorong pertumbuhan lebih cepat,” ujar Iwan. Ia menilai perfilman mampu menciptakan rantai nilai panjang. Setiap produksi melibatkan banyak pelaku usaha.
Pengalaman negara lain menjadi referensi penting. Amerika Serikat dengan Hollywood menjadi contoh sukses. Korea Selatan juga berhasil mengekspor industri hiburan global.
Ekonomi kreatif dinilai efektif menyerap tenaga kerja. Terutama bagi generasi muda yang mendominasi struktur penduduk. Di Jakarta, lebih dari 50 persen penduduk berusia produktif.
Subsektor kreatif menawarkan pekerjaan berbasis keterampilan. Banyak pekerjaan tidak bergantung pada modal besar. Kreativitas dan inovasi menjadi faktor utama.
BI melihat peluang ini sangat strategis. Pengembangan ekraf dapat mengurangi pengangguran muda. Selain itu, sektor ini mendorong kewirausahaan baru.
Industri kreatif juga selaras dengan ekonomi digital. Platform digital memperluas pasar dan distribusi. Hal ini meningkatkan daya saing pelaku lokal.
Iwan menyampaikan harapan besar terhadap masa depan ekraf Jakarta. Ia berharap Jakarta bisa menjadi pusat perhatian dunia. Seperti Hollywood atau Korea Selatan.
“Kita harapkan lensa dunia beralih ke Jakarta,” kata Iwan. Pernyataan ini mencerminkan visi jangka panjang. Jakarta diharapkan menjadi kota kreatif global.
Visi tersebut membutuhkan dukungan ekosistem. Regulasi, pembiayaan, dan infrastruktur harus saling mendukung. Kolaborasi lintas sektor menjadi keharusan.
Pemerintah daerah, komunitas, dan industri perlu bersinergi. BI berperan sebagai fasilitator kebijakan. Tujuannya menciptakan iklim yang kondusif.
Sebagai bentuk dukungan nyata, BI DKI Jakarta menginisiasi Jakarta Youth Film Festival 2026. Festival ini menyasar pelajar dan mahasiswa. Ajang ini menjadi wadah kreativitas generasi muda.
Festival tersebut tidak hanya bersifat kompetisi. Kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi. Peserta dapat bertukar ide dan membangun jejaring.
“Festival ini menyelaraskan talenta dengan arah pembangunan kota,” ujar Iwan. BI ingin memastikan kreativitas memiliki dampak ekonomi. Talenta muda diarahkan pada kebutuhan industri.
Jakarta Youth Film Festival menjadi bagian dari Jakarta Kreatif Festival 2026. Kegiatan ini menandai rangkaian agenda pengembangan ekraf. Fokusnya pada inovasi dan kolaborasi.
Pengembangan ekonomi kreatif juga terhubung dengan Jakarta Economic Forum 2026. Forum ini menghimpun ide dan gagasan kebijakan. Rekomendasi disusun berbasis inovasi.
BI memanfaatkan forum tersebut sebagai sumber kebijakan. Masukan dari pelaku kreatif menjadi bahan pertimbangan. Pendekatan ini memperkuat relevansi kebijakan.
Jakarta Economic Forum menjadi ruang dialog strategis. Akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah terlibat. Tujuannya menciptakan kebijakan berbasis bukti.
BI menilai ekonomi kreatif perlu didorong secara konsisten. Pertumbuhan tinggi harus diikuti peningkatan kontribusi. Targetnya memperkuat struktur ekonomi Jakarta.
Pengembangan ekraf membutuhkan kebijakan jangka panjang. Fokus tidak hanya pada pertumbuhan, tetapi juga keberlanjutan. Perlindungan hak kekayaan intelektual menjadi penting.
Dengan dukungan ekosistem yang tepat, ekonomi kreatif berpotensi menjadi motor baru. Jakarta memiliki modal besar berupa talenta dan pasar. BI optimistis visi ini dapat terwujud.
Baca juga: “Kawendra DPR Dorong Pembangunan Pusat Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif di IKN”