Ketegangan Global dan Sikap The Fed Jadi Penggerak Utama Lonjakan Harga Emas
Ketidakpastian geopolitik dan kebijakan ekonomi global terus memberi tekanan pada pasar keuangan dunia. Salah satu dampaknya terlihat pada tren penguatan harga emas, yang diprediksi akan terus naik hingga menembus USD3.400 per troy ounce. Emas kini menjadi pilihan utama investor sebagai aset lindung nilai.
Ketegangan antara Rusia dan Ukraina masih memanas. Rusia dilaporkan terus menggempur sejumlah kota besar di Ukraina. Di sisi lain, Presiden Volodymyr Zelensky menghadapi kesulitan dalam memperoleh bantuan dari Amerika Serikat dan Eropa, memperparah kondisi perang yang sudah berlangsung lebih dari tiga tahun.
Selain itu, konflik dagang antara Amerika Serikat dan Jepang juga memberi tekanan tambahan. Pemerintah AS mengancam akan memberlakukan tarif impor baru terhadap produk-produk Jepang. Jepang, sebagai respons, menyatakan siap melakukan langkah balasan. Tak hanya itu, tensi antara AS dan Eropa juga meningkat menjelang penerapan kebijakan tarif baru yang dijadwalkan mulai berlaku 9 Juli 2025.
“Ketika ketegangan global meningkat, emas selalu menjadi pelabuhan aman bagi investor,” ujar Ibrahim Assuaibi, analis komoditas dan mata uang, dalam pernyataan terbarunya.
Sementara itu, pasar juga tengah menanti pernyataan Gubernur The Fed, Jerome Powell. Ia dijadwalkan memberikan testimoni penting di hadapan Kongres terkait kondisi ekonomi AS. Fokus pasar akan tertuju pada sinyal kebijakan suku bunga.
Meskipun peluang pemangkasan suku bunga pada Juli dinilai kecil, ada kemungkinan pelonggaran moneter terjadi di akhir 2026 hingga 2027. Jika The Fed menunjukkan sikap dovish, maka harga emas kemungkinan besar akan semakin menguat. Kombinasi konflik global dan arah kebijakan moneter AS menjadikan emas sebagai instrumen investasi yang sangat menarik dalam waktu dekat.

