10 Tahun Kepemimpinan Sundar Pichai: Dari Chrome ke Investasi AI dan Kriket
Sundar Pichai telah menorehkan sejarah baru sebagai CEO terlama di Alphabet. Agustus 2025 ini, ia resmi memasuki tahun ke-10 masa kepemimpinannya. Kariernya di Google dimulai pada 2004, saat ia bergabung sebagai manajer produk dan menangani proyek kunci seperti Google Chrome dan sistem operasi Android.
Kiprah Pichai kian menanjak setelah diangkat menjadi CEO Google pada 2015, lalu memimpin seluruh induk perusahaan Alphabet pada 2019. Sejak saat itu, ia fokus membangun arah jangka panjang perusahaan, terutama di sektor kecerdasan buatan (AI). “Salah satu hal pertama yang saya lakukan sebagai CEO adalah mengarahkan perusahaan ke AI,” ujar Pichai dalam wawancara dengan Bloomberg, Oktober lalu.
Hasilnya terlihat nyata. Alphabet telah mengucurkan lebih dari USD 50 miliar dalam setahun terakhir untuk membangun infrastruktur AI—termasuk pusat data, chip semikonduktor, hingga sistem energi. Investasi itu juga mendukung pertumbuhan layanan cloud yang makin diminati pelanggan.
Langkah akuisisi terus diperluas. Awal Juli 2025, Alphabet mengumumkan pembelian aset tenaga kerja dan lisensi dari startup pemrograman Windsurf senilai USD 2,4 miliar. Imbasnya, saham Alphabet naik 4,1% pada Kamis (24/7/2025), meskipun sempat terkoreksi karena kekhawatiran atas belanja modal yang membengkak. Namun, Pichai menegaskan bahwa investasi ini bersifat strategis dan akan mencapai USD 85 miliar tahun ini.
Menariknya, sebagian besar kekayaan Pichai berasal dari tunai hasil penjualan saham. Meski hanya memiliki 0,02% saham Alphabet (senilai sekitar USD 440 juta), ia telah menjual saham senilai lebih dari USD 650 juta selama 10 tahun terakhir. Jika tidak menjual, kekayaannya bisa menembus USD 2,5 miliar.
“Baca juga: Pemerintah Perlu Fokus Tangani Masalah Judi Online” [3]

