
Makanan khas imlek
Perayaan Tahun Baru Imlek identik dengan hidangan khas yang disajikan di rumah-rumah masyarakat Tionghoa. Setiap makanan memiliki makna filosofis dan diyakini membawa keberuntungan, rezeki, serta kemakmuran bagi keluarga. Pakar fengshui, Yulius Fang, memaparkan beberapa hidangan yang selalu hadir saat Imlek beserta filosofi di baliknya.
Menurut Yulius, kue nastar menjadi salah satu hidangan paling populer. Kue ini diisi nanas, yang dalam bahasa Hokkien disebut “ong lai,” berarti kemakmuran datang. “Jadi ‘ong’ itu dimaknai sebagai hal yang hebat, berkuasa, makmur. Ditambah ‘lai’, artinya datang. Ini diartikan agar kehidupan berkembang dan sukses,” jelas Yulius di Jakarta, Rabu. Kue nastar biasanya ditempatkan di meja sebagai simbol harapan agar keluarga terus makmur sepanjang tahun.
Selain kue nastar, kue lapis menjadi favorit karena melambangkan rezeki yang datang berlapis-lapis. Warna-warni lapisan kue ini juga dianggap membawa kebahagiaan dan semangat baru bagi anggota keluarga.
Dumpling atau pangsit juga menjadi hidangan tradisional penting. Pada masa lalu, Imlek bertepatan dengan musim dingin, sehingga sayur dan buah segar sulit didapat. Dumpling, yang terbuat dari adonan tepung dan isian daging, mudah dibuat dan tahan lama. “Dumpling menjadi favorit karena cocok sebagai santapan di hari raya dan memiliki sejarah panjang di masyarakat Tionghoa,” kata Yulius.
Hidangan lain yang khas adalah kue keranjang. Kue ini biasanya menjadi hantaran untuk keluarga atau kerabat, namun berbeda dari kue lain, kue keranjang di meja hanya dimakan oleh tuan rumah, bukan tamu. “Meskipun disediakan di meja, kue keranjang tidak untuk tamu yang datang saat silaturahmi Imlek. Kue ini untuk dinikmati oleh tuan rumah sendiri,” jelas Yulius.
Kue keranjang memiliki tekstur lengket dan biasanya masih basah saat baru dibuat. Butuh beberapa hari agar kue cukup keras untuk dikonsumsi atau diberikan sebagai hadiah. Tradisi ini menjaga nilai simbolik dan kesakralan makanan dalam perayaan.
Baca juga: “Ekonomi Kreatif Dinilai BI Jadi Motor Baru Jakarta”
Selain kue, buah-buahan seperti jeruk dan apel juga sering dijadikan hantaran saat Imlek. Buah jeruk melambangkan keberuntungan dan rezeki, sedangkan apel menyimbolkan kedamaian. Selain itu, angpao menjadi pelengkap tradisi, biasanya diberikan kepada anak-anak atau anggota keluarga sebagai simbol keberuntungan.
Dalam tradisi keluarga, anak-anak atau kerabat yang berkunjung sering membawa kue atau minuman sebagai bentuk penghormatan dan persiapan tuan rumah. Praktik ini memastikan semua tamu disambut hangat tanpa harus membawa hidangan sendiri.
Hidangan Imlek bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari tradisi yang kaya makna. Setiap jenis kue dan buah menyampaikan doa, harapan, dan simbol kesejahteraan. Misalnya, kue nastar untuk kemakmuran, kue lapis untuk rezeki berlapis, dumpling untuk keberlangsungan hidup, dan kue keranjang untuk keharmonisan keluarga.
Tradisi ini juga menjadi media edukasi budaya bagi generasi muda. Dengan menyajikan dan memahami makna tiap hidangan, anak-anak diajarkan pentingnya nilai simbolik dalam perayaan Imlek. Hal ini menjaga kelestarian budaya Tionghoa di tengah modernisasi dan kehidupan perkotaan.
Selain makna filosofis, hidangan ini juga mendorong kebersamaan keluarga. Menyantap hidangan bersama saat Imlek memperkuat ikatan emosional dan mempererat silaturahmi. Praktik ini menjadi simbol penting bahwa perayaan bukan hanya tentang kemewahan, tetapi tentang nilai-nilai kekeluargaan dan keberuntungan yang diwariskan turun-temurun.
Secara keseluruhan, hidangan wajib saat Imlek mencerminkan filosofi, sejarah, dan tradisi masyarakat Tionghoa. Dari kue nastar hingga dumpling, setiap sajian memiliki makna yang memperkaya pengalaman perayaan dan menegaskan nilai budaya bagi keluarga.
Baca juga: “10 Ide Jualan Makanan Khas Tahun Baru Imlek, Peluang Cuan di Momen Perayaan”