
child grooming
infoinspiratif.com – Tenaga Ahli Psikolog Klinis Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak DKI Jakarta, Meinita Fitriana Sari, menegaskan sekolah memiliki peran strategis mencegah anak menjadi korban child grooming.
“Sekolah merupakan lingkungan utama bagi anak setelah keluarga, untuk melakukan langkah-langkah pencegahan maupun penanganan,” kata Meinita dalam siniar Rabu Belajar bertema Kenali dan Cegah Anak Kita dari Bahaya Child Grooming di Jakarta, Rabu.
Menurutnya, interaksi sehari-hari anak dengan guru dan teman sebaya di sekolah membentuk perilaku, nilai, dan rasa aman. Lingkungan sekolah yang aman dan edukatif sangat menentukan kemampuan anak mengenali dan melaporkan risiko kekerasan.
“Anak harus memiliki referensi beberapa tempat aman agar mampu menceritakan apa yang dia rasakan,” ujar Meinita.
Baca juga: “Blokir Grok Sementara, Kemkomdigi Tunggu Kepastian X”
Meinita menjelaskan pencegahan child grooming dapat dilakukan melalui edukasi perlindungan diri dan literasi digital. Misalnya, anak dibimbing mengatur privasi akun media sosial agar tidak sembarangan dihubungi orang dewasa yang berpotensi membahayakan.
Sekolah diharapkan menyediakan ruang aman atau safe space, tempat anak dapat melapor jika mengalami atau mengetahui kekerasan seksual. Dukungan guru dan konselor menjadi kunci agar anak merasa didengar dan terlindungi.
“Edukasi digital penting karena pelaku grooming sering memanfaatkan platform online untuk mendekati anak,” jelas Meinita.
Child grooming adalah manipulasi oleh orang dewasa yang membangun kedekatan emosional dan kepercayaan untuk mengeksploitasi anak. Pelaku biasanya memberi perhatian atau hadiah, kemudian mengisolasi korban agar mudah dikontrol.
“Anak yang menjadi korban sering kali tidak sadar dirinya dimanfaatkan, sehingga pendidikan tentang batasan dan keselamatan diri menjadi esensial,” tambahnya.
Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak DKI Jakarta mencatat pada 2025 terdapat 2.269 kasus kekerasan. Dari jumlah itu, 1.224 melibatkan anak-anak, termasuk 673 kasus kekerasan seksual. Angka ini menunjukkan perlunya peran aktif sekolah dalam pencegahan.
Data tersebut juga memperlihatkan bahwa anak-anak paling rentan terhadap eksploitasi, termasuk melalui media sosial dan interaksi dengan orang dewasa di luar keluarga.
Meinita menekankan peran orang tua juga tidak kalah penting. Sekolah dan keluarga harus bekerja sama memberikan edukasi, pengawasan, serta bimbingan agar anak tidak menjadi korban grooming.
“Kombinasi edukasi di sekolah dan pengawasan di rumah membuat anak lebih tangguh dan paham risiko,” katanya.
Lebih jauh, sekolah dapat melibatkan konselor dan psikolog untuk mengajarkan anak mengenali tanda-tanda manipulasi serta membangun keterampilan menolak atau melaporkan perilaku berbahaya.
Sekolah bukan sekadar tempat belajar akademik, tetapi juga lingkungan strategis mencegah child grooming. Dengan literasi digital, ruang aman, dan kolaborasi keluarga, anak bisa terlindungi dari risiko kekerasan dan eksploitasi.
Pendekatan proaktif ini diharapkan menurunkan angka kekerasan terhadap anak dan menciptakan generasi yang lebih aman dan sadar akan keselamatannya.
Baca juga: “Bukan Soal Usia, Ini Bahaya Child Grooming yang Sering Tak Disadari”